Logo
images

PEREMPUAN SEBAGAI AGEN SOSIALISASI DALAM UPAYA PENINGKATAN PARTISIPASI MASYARAKAT (I)

Beberapa kalangan mengkhawatirkan adanya penurunan tingkat partisipasi pemilih pada Pemilihan Kepala Daerah Serentak 9 Desember 2015. Kekhawatiran ini terkait dengan trend penurunan partisipasi pemilih, khususnya pasca era orde baru. Selain itu, adanya aturan – aturan baru dalam pelaksanaan pilkada serentak kali ini,  seperti aturan yang tertulis pada  PKPU No.7 tahun 2015 tentang kampanye gubernur, bupati dan waikota justru membatasi ruang gerak pasangan calon untuk mengiklankan dirinya kepada masyarakat. Akibatnya banyak masyarakat yang kurang  mengetahui bagaimana rekam jejak pasangan calon yang bertanding dalam Pilkada kali ini.  Informasi tentang rekam jejak dan visi, misi dan platform politik mereka menjadi dasar bagi masyarakat untuk memilih.

Selain adanya peraturan baru, faktor lama yang menjadi penyebab menurunnya tingkat partisipasi masyarakat ini, menurut Ferry Kurnia Rizkiyansyah, Komisioner KPU RI, sesuai hasil survei KPU bersama Harian Kompas,  juga disebabkan menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat pada lembaga pemerintah. Menurunnya kepuasan masyarakat terhadap kinerja lembaga eksekutif juga turut menjadi penyebab yang lain. Ferry mengatakan, dari, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja di semua sektor pemerintahan turun hingga 40%. Sekitar 90,2 % dari responden pun menyebut tidak puas terhadap kinerja partai politik.

Catatan data di KPU RI, tingkat partisipasi masyarakat terhadap pemilu memang ada kecenderungan menurun. Untuk Pemilu Legislatif, tahun 2004 berjumlah 84%,  2009 jumlahnya menurun menjadi 71% dan tahun 2014 sedikit meningkat menjadi 75%. Sementara untuk pemilihan presiden tingkat partisipasi pemilih, putaran 1 tahun 2004 sebesar 78%, putaran 2 sebesar 77%, tahun 2009 sebesar 72% dan pada tahun 2014 turun menjadi sebesar 70%.

 

 

Kekhawatiran adanya penurunan tingkat partisipasi pemilih ini, tentunya menjadi tantangan tersendiri pada KPU, untuk melakukan berbagai terobosan guna meningkatkan angka partisipasi pemilih. Ketua KPU RI, Husni Kamil Manik, dalam sebuah acara di Blitar  menyatakan, bahwa untuk pilkada serentak ini, target partisipasi pemilih sebesar 77,5%. Target yang telah ditetapkan ini, tentunya akan menuntut peningkatan kreativitas KPU selaku bagian penyelenggara pemilu untuk lebih mengkomunikasikan kegiatan pemilihan kepala daerah kepada masyarakat dan bagaimana mampu menarik masyarakat, agar mereka dengan sukarela datang ke TPS pada tanggal 9 Desember 2015 mendatang- meskipun sebenarnya, tanggungjawab untuk meningkatkan partisipasi masyarakat tidak sepenuhnya menjadi tugas KPU, melainkan tanggungjawab seluruh elemen masyarakat termasuk para stage holder. Strategi jemput bola dalam sosialisasi, mungkin bisa dijadikan salah satu solusi, jadi KPU tidak selalu harus mengundang masyarakat atau mengadakan pertemuan untuk sosialisasi, melainkan lebih pro aktif mengunjungi kegiatan-kegiatan yang dilakukan kelompok-kelompok masyarakat untuk bersosialisasi, serta menjalin hubungan baik dengan tokoh tokoh masyarakat baik dari kalangan agamawan, budayawan maupun kepemudaan.

Oleh:

Ummu Chairu Wardani

Divisi SDM dan Parmas KPU Kota Blitar

 

*Tulisan ini pernah dimuat dalam Jurnal Ide KPU Propinsi Jawa Timur



Dipost Oleh komisioner kpu

Komisioner Komisi Pemilihan Umum Kota Blitar

Tinggalkan Komentar